
Dalam industri pembangunan infrastruktur, presisi dalam menentukan estimasi biaya material merupakan fondasi utama keberhasilan proyek. Salah satu variabel yang paling sering menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah harga geotextile per m2 pada konstruksi. Satuan meter persegi (m2) telah menjadi standar universal karena memudahkan konsultan, kontraktor, dan pengembang untuk menghitung kebutuhan material secara proporsional dengan luas area lahan yang dikerjakan.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif faktor-faktor yang membentuk struktur harga tersebut, tren pasar terkini, serta bagaimana spesifikasi teknis memengaruhi nilai ekonomi dari material geosintetik ini.
Pemilihan satuan meter persegi bukan tanpa alasan. Dalam proyek-proyek besar seperti pembangunan jalan tol, reklamasi, atau stabilisasi lereng, luas lahan dihitung dalam satuan area. Dengan mengetahui harga geotextile per m2 pada konstruksi, tim manajemen proyek dapat dengan mudah mengalikan nilai tersebut dengan total luas area ditambah dengan estimasi waste (sisa potongan) dan overlap (tumpang tindih).
Namun, harga per m2 bukanlah angka statis. Ia merupakan hasil dari kombinasi antara teknologi manufaktur, kualitas bahan baku polimer, berat jenis material, hingga biaya distribusi. Memahami rincian di balik angka tersebut akan membantu Anda melakukan negosiasi yang lebih baik dengan supplier.
Terdapat beberapa elemen kunci yang menentukan mengapa satu jenis geotextile bisa memiliki harga yang jauh berbeda dengan jenis lainnya meski volumenya sama-sama satu meter persegi.
Gramasi adalah faktor penentu harga yang paling dominan. Geotextile dikategorikan berdasarkan beratnya, mulai dari 150 gsm hingga di atas 1000 gsm. Secara otomatis, kenaikan gramasi meningkatkan harga geotextile per m2 pada konstruksi karena konsumsi bahan baku yang lebih banyak.
Dua jenis utama geotextile memiliki proses produksi yang sangat berbeda. Jenis woven biasanya memiliki harga per m2 yang lebih tinggi pada gramasi yang setara karena proses penenunan memerlukan mesin yang lebih kompleks dan menawarkan kekuatan tarik yang jauh lebih besar.
Bahan baku polimer memegang peranan krusial. Polipropilena (PP) umumnya lebih mahal daripada Poliester (PET) karena memiliki ketahanan kimia yang lebih tinggi dan daya tahan yang lebih baik terhadap lingkungan tanah yang agresif.
Untuk memberikan gambaran bagi perencanaan anggaran Anda, berikut adalah estimasi harga rata-rata material di pasar Indonesia (belum termasuk ongkos pasang):
Dalam mengevaluasi harga geotextile per m2 pada konstruksi, jangan hanya melihat angka termurahnya. Anda harus membandingkan “harga per satuan kekuatan”. Sangat disarankan untuk selalu meminta Technical Data Sheet (TDS) dari supplier sebelum memutuskan pembelian berdasarkan harga semata.
Satu hal yang sering terlupakan dalam menghitung harga geotextile per m2 pada konstruksi adalah biaya pengiriman. Geotextile adalah material yang bulky. Untuk proyek di luar pulau Jawa, biaya logistik bisa menambah beban harga antara Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per m2.
Secara keseluruhan, harga geotextile per m2 pada konstruksi dipengaruhi secara kompleks oleh gramasi, jenis bahan, dan kualitas polimer. Satuan m2 memberikan kemudahan dalam perencanaan, namun ketelitian dalam memilih spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan teknis adalah kunci efisiensi finansial yang sebenarnya.