
Dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek infrastruktur, ketepatan dalam menentukan nilai satuan material adalah kunci untuk menghindari kerugian finansial. Salah satu material yang memerlukan ketelitian ekstra dalam kalkulasinya adalah geotextile. Berbeda dengan material bangunan dasar seperti semen atau bata, harga satuan geotextile pada konstruksi tidak hanya dipengaruhi oleh nilai beli barang di distributor, tetapi juga melibatkan variabel teknis pemasangan, spesifikasi material, dan kondisi lapangan.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja yang membentuk harga satuan tersebut, bagaimana cara menghitungnya secara akurat, dan strategi apa yang bisa diterapkan untuk menjaga efisiensi anggaran tanpa mengorbankan kualitas struktur.
Bagi seorang quantity surveyor atau manajer proyek, memahami harga satuan geotextile pada konstruksi adalah landasan utama sebelum memulai tender atau pengadaan. Kesalahan kecil dalam mengasumsikan biaya per meter persegi dapat berujung pada deviasi anggaran yang besar, terutama pada proyek skala makro seperti jalan tol atau reklamasi pantai yang membutuhkan puluhan ribu meter persegi material.
Harga satuan ini berfungsi sebagai tolok ukur efisiensi. Dengan mengetahui rincian biaya secara mendetail, pihak kontraktor dapat membandingkan antara penawaran satu supplier dengan supplier lainnya, serta mengukur produktivitas tenaga kerja di lapangan.
Untuk mendapatkan angka yang realistis, Anda tidak bisa hanya melihat label harga pada katalog pabrik. harga satuan geotextile pada konstruksi umumnya terdiri dari penggabungan beberapa komponen biaya berikut:
Ini adalah biaya murni pembelian material dari pabrik atau distributor. Nilai ini sangat dipengaruhi oleh jenis geotextile (Woven atau Non-Woven) dan gramasi material tersebut.
Geotextile dijual dalam bentuk roll besar yang cukup memakan tempat. Biaya pengiriman dari gudang ke lokasi proyek seringkali menambah beban pada harga satuan, terutama untuk lokasi proyek yang terpencil.
Dalam pemasangan, dua lembar geotextile harus dipasang tumpang tindih. Faktor kehilangan atau wastage ini harus dimasukkan ke dalam perhitungan harga satuan agar volume yang dibeli tidak kurang.
Pemasangan geotextile membutuhkan tenaga kerja untuk menghampar, memotong, dan menyambung material. Alat bantu seperti mesin jahit karung atau alat penyambung termal juga memerlukan biaya operasional.
Untuk memberikan gambaran praktis, mari kita asumsikan sebuah proyek penguatan tanah dasar menggunakan Geotextile Non-Woven 250 gsm. Jika harga material dari distributor adalah Rp 9.000 per m2, kemudian kita menambahkan biaya kirim sebesar Rp 500 per m2. Selanjutnya, kita menghitung faktor overlap sebesar 10% dan upah pasang sebesar Rp 1.500 per m2. Maka, estimasi harga satuan geotextile pada konstruksi untuk kondisi terpasang adalah:
(9.000 + 500) x 1,10 (overlap) + 1.500 = Rp 11.950 per m2
Angka inilah yang seharusnya masuk ke dalam RAB, bukan sekadar harga beli materialnya saja.
Nilai harga satuan geotextile pada konstruksi bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis di lapangan:
Memahami harga satuan geotextile pada konstruksi berarti melihat gambaran besar dari proses pengadaan hingga material tersebut terhampar sempurna di lapangan. Dengan mempertimbangkan komponen harga dasar, logistik, faktor overlap, dan biaya pemasangan, Anda dapat menyusun anggaran yang lebih presisi dan dapat dipertanggungjawabkan.